Kamis, 01 November 2012

ANGSLE

ANGSLE - PENGUSIR DINGINNYA KOTA MALANG

Bila kita berkesempatan jalan-jalan ke Surabaya atau Malang, kita akan mendapati warung atau gerobak kecil bertandu yang menjual berbagai minuman hangat. Biasanya di kain penutup warung itu tertulis, sedia ronde, angsle, kopi jahe dan ketan bubur.

Warungnya tidak mewah. Kecil memanjang, mirip garasi atau gerobak yang diberi kain penutup. Tetapi pengunjungnya tak berhenti mengalir, datang dan pergi.

Tak banyak yang tahu, bahwa minuman hangat angsle berasal dari Malang. Kota yang dikepung oleh beberapa gunung dan penghasil utama apel di Indonesia ini, memang berhawa dingin. Sekilas mirip kota Bandung dimana banyak terdapat minuman-minuman pengusir dingin.

Malang tak jauh dari Surabaya, dapat dicapai sekitar 3 jam dari ibukota Jawa Timur itu. Sekarang banyak penerbangan langsung dari Jakarta menuju Malang, pasalnya kota itu adalah kota kedua terbesar di provinsi Jatim.

Meski makanan khas, tak banyak warung atau tempat makan yang menyediakan angsle yang benar-benar nikmat. Tapi paling terkenal ada di tiga tempat ; di persimpangan jl Sempu Klojen . Kedua, depot ronde Titoni di Jalan Zainul Arifin. Namanya unik, karena warung itu terletak di depan toko jam Titoni. Angsle yang terkenal lainnya dapat kita temukan di Gang Semarang dekat Jalan Galunggung , tak jauh dari Bank Central Asia.

Apa angsle itu ? Minuman hangat berkuah yang sekilas mirip sekoteng. Bedanya, angsle memakai kuah santan panas berpandan yang diberi sedikit vanili, sedangkan sekoteng memakai air jahe panas. Angsle tidak memakai jahe, meski ada beberapa penjual yang mencampurnya sedikit. Bagi beberapa orang, kuah santan berpandan jika dicampur jahe rasanya menjadi agak aneh.

Isian wajib untuk angsle terdiri dari kacang hijau rebus, mutiara, kacang tanah sangrai dan roti yang dipotong kotak-kotak. Agar lebih lengkap, dapat ditambahkan petulo (putu mayang) dan ketan putih kukus. Ada juga penjual yang tidak memakai petulo sebagai isian, karena terlalu mengenyangkan. Isian tadi diguyur kuah santan panas yang wangi bau pandan. Sesaat setelah hujan adalah waktu yang pas untuk menyantap minuman itu.

Rata-rata penjual angsle baru buka sore sampai tengah malam ,yaitu sekitar pukul 16.00 sampai 01.00 WIB. Depot ronde Titoni amat ramai pada malam hari dan buka sampai sekitar pukul 23.00. Sedangkan angsle di Gang Semarang , buka pada pukul 18.00 sampai dinihari. Kebanyakan pengunjung tiga warung angsle terkenal itu adalah orang-orang Malang yang telah bekerja atau pindah ke kota lain, dan ke warung itu untuk bernostalgia. Meski banyak dari pengunjung yang masih tinggal di kota Malang.

Karena harganya murah, yaitu sekitar 5 ribu rupiah, sehari mereka mampu menjual 100 – 300 porsi angsle. Paling terkenal adalah warung Titoni yang bisa menjual rata-rata 200 porsi angsle. Warung ini sejak 1948 sudah berjualan angsle dan ronde. Ronde Gang Semarang dapat menjual rata-rata 75 – 200 porsi setiap harinya.

Selain angsle, biasanya sebuah warung juga berjualan ronde yang berkuah jahe. Di Malang, ronde ada dua macam, ronde basah dan ronde kering. Menu lain yang ditemukan adalah ketan bubuk dan beberapa makanan kecil lainnya. Jadi bila ke Malang, jangan lupa mencicipi angsle. (1002)

RESEP ANGSLE KOMPLIT

Bahan ronde:
100 g tepung ketan
100 ml air panas
pewarna kue warna merah, hijau
garam secukupnya
100 g kacang tanah, sangrai haluskan
75 g gula pasir
750 ml air untuk merebus ronde

Bahan isi lainnya:
Petulo (kue putu mayang) ukuran kecil bbrp buah
100 g kacang hijau, rebus sampai lunak
200 g tape singkong, potong dadu 2 cm
75 g kacang tanah kupas, sangrai
75 g pacar cina (mutiara sagu), rebus hingga lunak
5 lembar roti tawar, potong dadu

Bahan kuah jahe:
100 g jahe, bakar, kupas, memarkan
3 lembar daun pandan, ikat
225 g gula pasir
2 batang serai, memarkan
1 liter air

Bahan kuah santan:
250 ml santan
1 sdt garam
2 lembar daun pandan

Cara membuat:

1. Isi ronde : Campur kacang tanah dan gula pasir, aduk rata, sisihkan
2. Ronde : Campur tepung ketan dan air panas, uleni hingga kalis. Bagi adonan menjadi 3 bagian, satu bagian beri pewarna kue warna merah, satu bagian lagi beri pewarna kue warna hijau, dan sisa satu bagian lagi biarkan putih. Ambil sejumput adonan, beri isi, tutup kembali, bentuk bulat. Lakukan hingga adonan habis. Didihkan air, masukkan bulatan adonan hingga terapung, angkat dan masukkan ke dalam larutan gula agar tidak saling menempel.

1. Kuah jahe: Didihkan air, masukkan jahe, daun pandan, gula pasir, dan serai. Masak hingga rempah-rempah meresap. Angkat, siishkan.
2. Kuah santan: Campur semua bahan, rebus hingga mendidih sambil diaduk-aduk. Angkat, sisihkan.
3. Tata semua bahan isi di mangkok, siram dengan kuah jahe panas dan kuah santan. Sajikan segera
ANGSLE - PENGUSIR DINGINNYA KOTA MALANG

Bila kita berkesempatan jalan-jalan ke Surabaya atau Malang, kita akan mendapati warung atau gerobak kecil bertandu yang menjual berbagai minuman hangat. Biasanya di kain penutup warung itu tertulis, sedia ronde, angsle, kopi jahe dan ketan bubur.

Warungnya tidak mewah. Kecil memanjang, mirip garasi atau gerobak yang diberi kain penutup. Tetapi pengunjungnya tak berhenti mengalir, datang dan pergi.

Tak banyak yang tahu, bahwa minuman hangat angsle berasal dari Malang. Kota yang dikepung oleh beberapa gunung dan penghasil utama apel di Indonesia ini, memang berhawa dingin. Sekilas mirip kota Bandung dimana banyak terdapat minuman-minuman pengusir dingin.

Malang tak jauh dari Surabaya, dapat dicapai sekitar 3 jam dari ibukota Jawa Timur itu. Sekarang banyak penerbangan langsung dari Jakarta menuju Malang, pasalnya kota itu adalah kota kedua terbesar di provinsi Jatim.

Meski makanan khas, tak banyak warung atau tempat makan yang menyediakan angsle yang benar-benar nikmat. Tapi paling terkenal ada di tiga tempat ; di persimpangan jl Sempu Klojen . Kedua, depot ronde Titoni di Jalan Zainul Arifin. Namanya unik, karena warung itu terletak di depan toko jam Titoni. Angsle yang terkenal lainnya dapat kita temukan di Gang Semarang dekat Jalan Galunggung , tak jauh dari Bank Central Asia.

Apa angsle itu ? Minuman hangat berkuah yang sekilas mirip sekoteng. Bedanya, angsle memakai kuah santan panas berpandan yang diberi sedikit vanili, sedangkan sekoteng memakai air jahe panas. Angsle tidak memakai jahe, meski ada beberapa penjual yang mencampurnya sedikit. Bagi beberapa orang, kuah santan berpandan jika dicampur jahe rasanya menjadi agak aneh.

Isian wajib untuk angsle terdiri dari kacang hijau rebus, mutiara, kacang tanah sangrai dan roti yang dipotong kotak-kotak. Agar lebih lengkap, dapat ditambahkan petulo (putu mayang) dan ketan putih kukus. Ada juga penjual yang tidak memakai petulo sebagai isian, karena terlalu mengenyangkan. Isian tadi diguyur kuah santan panas yang wangi bau pandan. Sesaat setelah hujan adalah waktu yang pas untuk menyantap minuman itu.

Rata-rata penjual angsle baru buka sore sampai tengah malam ,yaitu sekitar pukul 16.00 sampai 01.00 WIB. Depot ronde Titoni amat ramai pada malam hari dan buka sampai sekitar pukul 23.00. Sedangkan angsle di Gang Semarang , buka pada pukul 18.00 sampai dinihari. Kebanyakan pengunjung tiga warung angsle terkenal itu adalah orang-orang Malang yang telah bekerja atau pindah ke kota lain, dan ke warung itu untuk bernostalgia. Meski banyak dari pengunjung yang masih tinggal di kota Malang.

Karena harganya murah, yaitu sekitar 5 ribu rupiah, sehari mereka mampu menjual 100 – 300 porsi angsle. Paling terkenal adalah warung Titoni yang bisa menjual rata-rata 200 porsi angsle. Warung ini sejak 1948 sudah berjualan angsle dan ronde. Ronde Gang Semarang dapat menjual rata-rata 75 – 200 porsi setiap harinya.

Selain angsle, biasanya sebuah warung juga berjualan ronde yang berkuah jahe. Di Malang, ronde ada dua macam, ronde basah dan ronde kering. Menu lain yang ditemukan adalah ketan bubuk dan beberapa makanan kecil lainnya. Jadi bila ke Malang, jangan lupa mencicipi angsle. (1002)

RESEP ANGSLE KOMPLIT

Bahan ronde:
100 g tepung ketan
100 ml air panas
pewarna kue warna merah, hijau
garam secukupnya
100 g kacang tanah, sangrai haluskan
75 g gula pasir
750 ml air untuk merebus ronde

Bahan isi lainnya:
Petulo (kue putu mayang) ukuran kecil bbrp buah
100 g kacang hijau, rebus sampai lunak
200 g tape singkong, potong dadu 2 cm
75 g kacang tanah kupas, sangrai
75 g pacar cina (mutiara sagu), rebus hingga lunak
5 lembar roti tawar, potong dadu

Bahan kuah jahe:
100 g jahe, bakar, kupas, memarkan
3 lembar daun pandan, ikat
225 g gula pasir
2 batang serai, memarkan
1 liter air

Bahan kuah santan:
250 ml santan
1 sdt garam
2 lembar daun pandan

Cara membuat:

1. Isi ronde : Campur kacang tanah dan gula pasir, aduk rata, sisihkan
2. Ronde : Campur tepung ketan dan air panas, uleni hingga kalis. Bagi adonan menjadi 3 bagian, satu bagian beri pewarna kue warna merah, satu bagian lagi beri pewarna kue warna hijau, dan sisa satu bagian lagi biarkan putih. Ambil sejumput adonan, beri isi, tutup kembali, bentuk bulat. Lakukan hingga adonan habis. Didihkan air, masukkan bulatan adonan hingga terapung, angkat dan masukkan ke dalam larutan gula agar tidak saling menempel.

1. Kuah jahe: Didihkan air, masukkan jahe, daun pandan, gula pasir, dan serai. Masak hingga rempah-rempah meresap. Angkat, siishkan.
2. Kuah santan: Campur semua bahan, rebus hingga mendidih sambil diaduk-aduk. Angkat, sisihkan.
3. Tata semua bahan isi di mangkok, siram dengan kuah jahe panas dan kuah santan. Sajikan segera

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar